Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Islami, Utsman bin Affan, Khalifah Ketiga Bergelar Dzunnurain

Utsman bin Affan al-Quraisy adalah sahabat Rasulullah Saw yang menjadi Khulafaur Rasyidin ketiga, la berasal dari Bani Umaiyah yang lahir pada tahun keenam tahun gajah atau lima tahun setelah kelahiran Rasulullah Saw. Panggilan akrabnya adalah Abu Abdullah, la mendapat gelar dari Rasulullah Saw sebagai Dzunnurain (orang yang memiliki dua cahaya),

Utsman dilahirkan oleh Arwa binti Kuriz bin Rabi'ah. la masuk Islam atas ajakan Abu Bakar ash-Shiddiq sesudah Ali bin Abi Thalib dan Zain bin Haritsah masuk dalam golongan Assabiqunal Awwalun (generasi pertama 19 yang masuk Islam).

Utsman merupakan seorang saudagar kaya yang dermawan. Dalam dunia bisnis, ia menjual kain. Sebagian besar keuntungan barang dagangannya, ia gunakan untuk mencari ridha Allah Swt, pembangunan masjid, dan memfasilitasi jihad umat Islam melawan kaum kafir. Selain berdagang, ia juga merupakan peternak ulung. Oleh karenanya, tidak ada satu orang pun yang mempunyai binatang ternak lebih banyak darinya

Ketika Rasulullah Saw masih hidup. Utsman bin Affan dipercaya menjadi wali kota di Madinah. la memimpin negeri selama dua periode. Pertama, pada Perang Dzatur Riqa. Kedua, saat Rasulullah Saw sedang melancarkan Perang Ghathafan.

Selain sebagai saudagar kaya dan pemimpin yang adil, Utsman juga dikenal sebagai ahli ekonomi. Meskipun demikian, ia memiliki jiwa sosial yang tinggi. Ketika ada orang yang membutuhkannya, ia tidak segan-segan menyumbangkan kekayaannya demi kepentingan masyarakat dan agarna.

A. Menegakkan Keadilan

Sepeninggal Umar bin Khathab, Utsman diangkat menjadi khalifah. Pengangkatan ini didasarkan pada Musyawarah dan Keputusan Sidang Panitia Enam. Utsman merupakan khalifah ketiga dan yang tertua. Pada waktu diangkat menjadi khalifah, ia telah berusia 70 tahun. Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharram tahun 24 Hijriah.

Baca Juga : Kisah Islami | Umar bin Khattab

Saat kekhalifahan ada di tangan Utsman bin Affan merupakan masa yang paling makmur dan sejahtera. Banyak riwayat yang menjelaskan bahwa saat ia menjadi khalifah, semua rakyat hidup makmur. Tidak ada seorang pun yang hidup dalam kesusahan dan kekurangan. Bahkan, banyak orang yang bisa menjalankan ibadah haji berkali-kali. Saat itu, budak tidak dijual berdasarkan baik atau buruknya melainkan berdasarkan berat timbangan badannya.

Saking banyaknya orang yang menjalankan ibadah haji, Utsman berinisiatif membangun dan memperluas Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Oleh karenanya, ia dikenal sebagai khalifah yang pertama kali melakukan perluasan dan pembangunan kedua masjid tersebut.

Dalam mengayomi rakyat, Utsman membuat lembaga hukum untuk mengadili semua masalah yang ada. Hal ini belum pernah dilakukan oleh khalifah sebelumnya. la mengajak umat Islam melebarkan ekspansi. Saat itu, kaum muslimin pertama kalinya mempunyai armada laut yang sangat tangguh. Oleh karenanya, umat Islam mampu menguasai Syria, Palestina, dan Lebanon. Selain ketiga negara tersebut, kaum muslimin mampu menggempur pulau Rhodes dan mengepung Konstantinopel.

Awalnya, pemerintahan yang dijalankan Utsman berjalan lancar. Hanya saja, ia memecat Gubernur, Mughirah bin Syu'bah dan menggantinya dengan Sa'ad bin Waqas atas wasiat Umar bin Khattab.

Dalam rangka menciptakan pemerintahan yang adil. Utsman juga memecat sebagian pejabat yang dinilai tidak adil. Hal ini dilakukan dengan tujuan mempermudah pengaturan dan memperbarui pemerintahan yang lebih baik. Adapun lowongan kursi pejabat yang telah ia pecat digantikan oleh para famili yang dinilai dapat dipercaya pada bidangnya.

B. Kebohongan Marwan bin Hakam 

Tindakan Utsman yang memecat sebagian pejabat dinilai sebagai nepotisme oleh sebagian sahabat. Hal ini mengundang protes dari berbagai macam pihak khususnya orang yang dipecat. Oleh karenanya, muncul gerombolan yang dipimpin oleh Abdullah bin Saba' untuk menuntut kebijakannya dinilai tidak adil.

Abdullah bin Saba' menuntut agar pejabat dan para pembesar yang diangkat oleh Utsman dipecat pula. Usulan ini ditolak oleh Utsman. Pada masa kekhalifahannya aliran Syi'ah lahir dan Abdullah bin Saba disebut sebagai pencetusnya.

Baca Juga : Kisah Islami | Juru Bicara Rasulullah SAW, Tsabit bin Qais

Karena merasa sakit hati, Abdullah bin Saba' membuat propaganda yang hebat dalam bentuk semboyan anti Bani Umaiyah, termasuk Utsman. Seterusnya, penduduk setempat banyak yang termakan hasutan. Akibatnya, datanglah ribuan penduduk ke Madinah guna menuntut kebijakan Utsman.

Dari sekian banyak tuntutan kaum muslimin, semua ditolak oleh Utsman, kecuali tuntutan dari penduduk Mesir yang meminta agar Abdullah bin Sarah dipecat dan digantikan oleh Muhammad bin Abi Bakar. Karena merasa senang tuntutannya dikabulkan oleh khalifah, penduduk Mesir kembali ke tanah kelahiran.

Ketika penduduk Mesir berjalan kembali ke tanah kelahiran dengan rasa bangga, mereka bertemu dengan seseorang yang membawa surat yang mengatasnamakan Utsman. Surat tersebut berisi perintah agar Gubernur Mesir yang lama, Abdullah bin Abi Sarah, membunuh Gubernur baru. Muhammad Abi Bakar. Melihat kenyataan semacam ini, mereka pun mengurungkan diri untuk kembali ke Mesir. Akhimya, mereka kembali ke Madinah untuk membunuh Khalifah Utsman karena merasa dipermainkan.

Setelah surat itu diperiksa, ternyata yang menulis bukanlah Khalifah Utsman melainkan Marwan bin Hakam. Meskipun demikian, penduduk Mesir tetap menghadap khalifah dan menuntut dua hal. Pertama, supaya Marwan bin Hakam di qishash (hukuman bunuh karena membunuh orang). Kedua, Khalifah Utsman mengundurkan diri dari kepemimpinan

Kedua tuntutan tersebut di tolak oleh Khalifah Utsman karena tuntutan yang pertama tidak sesuai dengan ajaran al-Qur'an dan Sunnah. Seseorang akan dijatuhi hukuman qishash ketika telah membunuh Sedangkan Marwan baru berencana membunuh.

Baca Juga : Kisah Islami | Ikrimah bin Abu Jahal

Sedangkan tuntutan kedua, beliau berpegang teguh pada pesan Rasulullah Saw. "Bahwasanya engkau, Utsman akan mengenakan baju kebesaran. Apabila engkau telah mengenakannya, jangan lepaskan." 

Setelah mengetahui bahwa Khalifah Utsman tidak mengabulkan tuntutan penduduk Mesir pun melakukan demo besar-besaran selama empat puluh hari. Selama itu pula, nyawa Utsman terancam. Penduduk Mesir tidak hanya ingin menurunkannya sebagai khalifah tetapi juga ingin membunuh pemimpin kaum Islam ini. Setiap hari, rumah Khalifah Utsman dijaga ketat oleh sahabat-sahabatnya. Mereka adalah Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam. Muhammad bin Thalhah, Hasan, dan Husein bin Ali bin Abi Thalib.

Suatu hari, tanpa diketahui oleh pengawal pengawal rumah, masuklah kepala gerombolan, Muhammad bin Abu Bakar (Gubernur Mesir yang Baru) dan membunuh Utsman yang sedang membaca al-Qur'an. Dalam riwayat lain pembunuh Utsman adalah Aswadan bin Hamran dari Tujib, Mesir. Riwayat lain menyebutkan bahwa pembunuhnya adalah Al-Ghafiki dan Sudan bin Hamran.

Khalifah Utsman wafat pada bulan Haji tahun 35 Hijriah dalam usia 82 tahun. la menjabat sebagai Khalifah selama 12 tahun. Ia dimakamkan di kuburan Baqi' Madinah.

Posting Komentar untuk "Kisah Islami, Utsman bin Affan, Khalifah Ketiga Bergelar Dzunnurain"