Kisah Islami, Hasan bin Ali

Kisah Islami, Hasan bin Ali

Рada pertengahan bulan Ramadhan 3 Hijriah, keluarga Rasulullah Saw mendapat kebahagiaan. Saat itu, putri tercinta beliau, Fatimah az-Zahra melahirkan Hasan. Saat ini, keturunan Hasan telah menyebar di berbagai pelosok negeri. Mereka dikenal dengan sebutan habib, syarif, atau asyraf.

Rasulullah Saw berpesan, "Sesungguhnya anakku ini adalah pemimpin. Melalui anak inilah, Allah Swt. akan mendamaikan dua kelompok kaum muslimin yang saling berseteru."

Pada hari ketujuh kelahiran Hasan, Rasulullah Saw mengunjungi keluarga Ali bin Abi Thalib dan bertanya. "Bayi ini kalian beri nama siapa?" Mereka menjawab "Harb." Rasulullah Saw berkata, "Jangan, namailah Hasan."

Baca Juga : Kisah Islami, Abdullah bin Zubair

Hasan merupakan cucu yang paling mirip dengan Rasulullah Saw. Hal ini sesuai dengan pernyataan Imam Bukhari, "Pada suatu hari, setelah shalat Ashar, Abu Bakar keluar dari masjid dan berjalan bersama Ali bin Abi Thalib. Di tengah perjalanan, Abu Bakar melihat Hasan sedang bermain bersama teman-temannya. Abu Bakar mengangkat tangan Hasan di atas pundaknya sambil berkata, "Sungguh ia mirip dengan Rasulullah, tidak mirip dengan Ali." Melihat dan mendengar perkataan Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib hanya tertawa"

Banyak hadits yang menjelaskan keutamaan Hasan. Salah satunya, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Barra' berkata, "Saya melihat Rasulullah dan Hasan bin Ali di atas pundaknya. Saat itu, beliau bersabda, Ya Allah, aku mencintainya, maka cintailah ia."

Dalam riwayat yang lain, Abu Bakar berkata, "Pada suatu hari, Rasulullah Saw shalat bersama kami. Di saat beliau sedang sujud, datanglah Hasan yang saat itu masih kecil. Kemudian, la duduk di atas punggung Rasulullah Saw dan sesekali di atas pundaknya. Kemudian, beliau mengangkar Hasan dan menurunkannya pelan-pelan. Setelah selesai shalat, salah satu sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, kami melihatmu sangat memanjakan Hasan dan kami belum pemah melihat hal semacam ini sebelumnya Rasulullah Saw. menjawab, "Sesungguhnya ini adalah kembang mekarku dan sesungguhnya anakku ini adalah pemimpin. Melaluinya, semoga Allah akan mendamaikan antara dua kelompok dari Muslimin."

Sangat wajar Rasulullah Saw sangat mencintai Hasan karena merupakan cucu pertama yang diharapkan bisa meneruskan perjuangan. Sering kali, beliau mendatangi Hasan untuk mengajari berbagai macam ilmu. Oleh karenanya, tidak diragukan lagi bahwa Hasan merupakan orang yang telah mewarisi sifat-sifat mulia yang terdapat dalam diri Rasulullah Saw.

A. Ditinggalkan Orang-Orang yang Menyayanginya

Kebersamaan Hasan bin Ali dengan Rasulullah Saw tidak berlangsung lama. Sebab, ketika ia berumur 7 tahun, Rasulullah Saw wafat. Mengetahui orang yang paling dekat dengannya wafat, ia merasa sangat terpukul.

Setelah Rasulullah Saw wafat, Hasan dididik oleh kedua orang tuanya. la pun menemukan kebahagiaan yang pernah hilang. Namun, hal ini tidak berlangsung lama. Sebab, enam bulan setelah wafatnya Rasulullah Saw. Ibunya tercinta, Fatimah az-Zahra, juga wafat.

Kejadian yang telah berlalu pun terulang. Hasan merasakan keterpurukan lagi. la tidak mempunyai orang yang bisa dijadikan pelarian untuk mengadu. Jika ia melihat adik-adiknya, hatinya semakin tersayat. Tidak lama, Hasan merasa terayomi lagi karena ayahnya menikah dengan Umamah binti Abil Ash.

B. Lelaki yang Rupawan

Setelah dewasa, Hasan dikenal sebagai seorang pemuda yang berwibawa, dihormati, disegani, dan dicintai oleh sahabat Rasulullah Saw. la tumbuh menjadi orang yang berbudi luhur, rendah hati, dermawan, dan bijaksana. Dalam sejarah Islam, ia dikenal sebagai pemimpin yang menjunjung tinggi perdamaian dan benci dengan pertumpahan darah.

Baca Juga : Kisah Islami, Zubair bin Awwam

Kelebihan lain yang dimiliki oleh Hasan adalah ketampan. Ketampanannya membuat para gadis di negeri Arab ingin menjadi pendampingnya. Bahkan, terdapat riwayat yang menjelaskan bahwa banyak orang tua datang kepada Hasan untuk menawarkan putri-putrinya agar dinikahi.

Al-Waqidi berkata, "Hasan bin Ali merupakan orang yang menikah berkali-kali. Tidak banyak orang yang istimewa di sisinya. Namun, setiap wanita yang menikah dengannya dipastikan bahagia."

Sebagai cucu Rasulullah Saw, tidaklah heran jika Hasan bin Ali menjadi orang yang taat kepada Allah Swt. Setiap hari, ia selalu bermunajat dan beribadah kepada-Nya. Ibnu Sa'ad mengatakan, "Apabila Hasan shalat Subuh, selesai shalat, ia duduk di tempat shalat dan berdzikir hingga matahari meninggi. Setelah itu, Hasan berbincang-bincang dengan kaum muslimin. Setelah selesai, ia singgah di rumah Aisyah dan menyampaikan salam kaum muslimin kepadanya. Allah Swt memberikan harta yang melimpah kepadanya. Meskipun demikian, ia menyedekahkan dua pertiga hartanya untuk fakir miskin, la menunaikan haji dua puluh lima kali dengan berjalan kaki. Sementara, unta-unta dituntun di depannya."

C. Menenggak Racun

Meskipun Hasan bin Abi Thalib adalah orang yang mempunyai pribadi luhur, banyak orang yang menyayanginya, tetapi ada juga orang yang membenci. Hal ini terbukti ketika ia disuguhi racun oleh pembantunya. Sebelum wafat, Hasan disuguhi racun hingga pingsan. Setelah siuman, sang pembantu memberikan minuman yang sama hingga ia pingsan lagi. Hal ini dilakukan hingga tiga kali. Menjelang wafat, seorang dokter yang merawat Hasan berkata. Orang ini telah diputus-putus ususnya oleh racun."

Husain berkata," Wahai Abu Muhammad, katakan padaku siapakah yang memberimu minuman?"

"Mengapa wahai saudaraku?" Tanya Hasan

Husain menjawab, "Demi Allah. Aku akan membunuhnya sebelum aku mengubur jenazahmu. Jika aku tidak bisa menemuinya maka aku akan berusaha sekuat tenaga untuk bertemu dengannya."

Hasan berkata, "Wahai saudaraku. Dunia ini hanyalah malam-malam yang fana. Biarkanlah ia hingga kelak aku dan ia bertemu di hadapan Allah." Hasan tidak mau menyebutkan nama orang itu.

Sebagian kaum muslimin menjelaskan bahwa dalang dari pembunuhan Hasan adalah Yazid bin Mu'awiyah. Yazid memberikan perintah kepada seorang wanita bernama Ja'dah binti al-Asy'ats untuk meracuni Hasan dengan janji akan menikahinya. Setelah Hasan wafat, Ja'dah menemui Yazid dan menagih janjinya. Yazid berkata, Demi Allah Swt, kami tidak rela jika engkau menikah dengan Hasan bin Ali, Lantas, bagaimana mungkin saya mau menikah denganmu?"

Baca Juga : Kisah Islami, Ali bin Abi Thalib

Sufyan bin Uyainah meriwayatkan dari Raqabah bin Mashallah, ia berkata, "Menjelang wafatnya, Hasan bin Ali berkata "Keluarkanlah aku ke halaman agar aku dapat melihat langit yang luas." Mereka pun mengeluarkan tempat tidurnya. la mengangkat kepala dan berkata, 'Ya Allah, aku mengikhlaskan jiwaku berada di sisi-Mu, karena jiwaku adalah yang paling berharga bagiku.'"

Ketika Hasan wafat, kaum muslimin baik wanita maupun laki-laki berkumpul di rumahnya. Mereka menangisi kepergiannya dan mengantarkan ke pemakaman Baqi' Ibnu Ulayyah meriwayatkan dari Ja'far bin Muhammad dari ayahnya, "Hasan wafat dalam usia 74 tahun. Demikianlah yang dikatakan oleh sejumlah orang. Dan itulah yang benar. Menurut riwayat yang masyhur, ia wafat pada tahun 49 H. Sementara, riwayat lain mengatakan, ia wafat pada tahun 50 H.

Sumber

  • AF. Rozi, Hikayat Syahid Paling Wangi (Jogjakarta: Sabil, 2014), hlm. 159-165.
Lebih baru Lebih lama