Kisah Islami, Mush'ab bin Umair

Kisah Islami, Mush'ab bin Umair
Sumber : Makalah Nih

Mush'ab bin Umair merupakan anak lelaki dari Umair bin Hasyim. Ibunya bernama Khunas binti Malik. Orang tuanya kaya raya dan sangat terhormat. Sejak kecil Mush'ab hidup berkecukupan, bahkan mewah. Setiap hari, ia selalu mengenakan baju bagus dan mahal. 

Mush'ab dikenal sebagai pemuda yang sangat cerdas dan berhati mulia. Meskipun usianya sangat muda, ia sering diizinkan mengikuti pertemuan para petinggi Quraisy. Dengan begitu, ia dapat mengetahui semua isu yang ada di Makkah dengan cepat.

A. Mengikuti Al-Amin

Suatu hari, Mush'ab mendengar kabar bahwa di Makkah terdapat Rasulullah Saw yang menyebarkan agama baru. Saat itu, para petinggi Makkah mencari cara untuk menghalangi dakwahnya. Namun, Mush'ab tertarik untuk bertemu sebab beliau adalah Al-Amin (terpercaya).

Mush'ab mulai menyelidiki keberadaan Rasulullah Saw dan para sahabat. Akhirnya, ia mengetahui bahwa mereka berkumpul di rumah Aqam. Rumah tersebut berada di tempat terpencil, dekat Bukit Shafa, la pun menemui dan mendengarkan ajaran yang disampaikan Rasulullah Saw secara langsung. la mendengar ayat-ayat al-Quran dan tergerak hatinya untuk memeluk Islam. Saat itu, usianya diperkirakan kurang dari 20 tahun la termasuk kaum muslimin generasi awal yang dibina oleh Rasulullah Saw di Darul Arqam.


Mushab memeluk agama islam dengan cara sembunyi-sembunyi. Hal ini dilakukan karena jika kaum Quraisy mengetahui keislamannya, taruhannya adalah nyawa.

Suatu saat, pamannya, Utsman bin Thalhah, melihat Mush'ab sedang melakukan shalat. Sang Paman melaporkan hal ini kepada ibu Mush'ab. Setelah tahu anaknya masuk islam, sang ibu membujuknya agar tetap beragama seperti agama kaumnya. Namun Mush'ab tidak mau, Ibunya pun marah besar dan mengurungnya.

Dengan izin Allah Swt, Mushaf berhasil melarikan diri dan ibunya. Ia bergabung bersama kelompok Islam yang hijrah menuju Habasyah (Ethiopia). Setelah beberapa tahun, Mush'ab kembali ke Makkah bersama rombongan yang lain.

Semenjak tahu keislaman Mush'ab, keluarganya tidak lagi memberikan fasilitas dan kenyamanan sebagai anak orang kaya. Sebaliknya, ia ditakdirkan untuk merasakan pahitnya kehidupan la harus banting tulang untuk mencukupi kehidupannya. Parahnya, ia diusir dari rumah dan tidak diakui sebagai anak oleh ibunya. Tetapi, semua tidak membuat Mushaf menyerah.

Suatu ketika, Mush'ab mendatangi pertemuan dengan Rasulullah Saw. la tidak lagi mengenakan baju seperti yang digunakan sebelumnya. la mengenakan baju yang penuh dengan tambalan. Kaum muslimin menangis karena merasa iba. Namun, Rasulullah Saw tersenyum sambil berkata, "Dahulu, saya lihat Mush'ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya. Kemudian semua ditinggalkan demi cintanya kepada Allah Swt dan rasul-Nya."

B. Narasumber Madinah

Seiring dengan berjalannya waktu, semakin banyak orang yang memeluk Islam. Setiap mulut membahas tentang ajaran yang di bawa oleh Rasulullah Saw. Saking banyaknya orang yang membicarakan Islam, berita ini sampai ke telinga penduduk Madinah. Enam orang jamaah haji datang menemuinya. Mereka menyatakan keislamannya. Sekembalinya ke Madinah, mereka mendakwahkan Islam.

Musim haji tahun berikutnya, jumlah jamaah haji menjadi 12 orang. Dari kesemuanya, 5 orang merupakan jamaah tahun lalu dan 7 orang adalah baru. Mereka meminta Rasulullah Saw agar mengutus salah satu sahabat untuk mengajarkan Islam dan menjadi imam di Madinah.

Rasulullah Saw memilih Mush'ab bin Umair untuk menjalankan tugas tersebut. Saat itu, diperkirakan usia Mush'ab berkisar 20-25 tahun. Sebenarnya, di kalangan sahabat masih banyak yang lebih tua, lebih berpengaruh dan lebih dekat hubungan kekeluargaan dengan Rasulullah Saw. Tetapi beliau menjatuhkan pilihannya pada Mush'ab.

Di Yatsrib, Mush'ab tinggal bersama As'ad bin Zararah. Bersamanya, Mush'ab mendatangi berbagai kabilah dan rumah untuk mengajak mereka memeluk agama islam. Saat berdakwah pada Kabilah Abdul Asyhal, ia sempat disergap oleh Usaid bin Hudhair. la dianggap sebagai orang yang mengajarkan kesesatan kepada kabilah ini. 


Usaid berkata, "Kenapa kalian datang kepada kami membodohi orang lemah kami? Pergi kalian dari kami, jika masih sayang kepada nyawa kalian!"

Mush'ab menjawab, "Tidakkah Anda duduk sejenak, mendengarkan kami. Jika Anda menyukainya, Anda terima. Jika tidak, kami akan menuruti kemauan Anda."

Usaid menegaskan, "Baik, ini adil"

Selanjutnya, Mush'ab menjelaskan ajaran Islam. la membacakan beberapa ayat. Usaid pun berkata, "Alangkah bagusnya ucapan ini. Apa yang kami lakukan jika kami ingin masuk ke dalam agama ini?"

Mush'ab menjawab, "Engkau mandi, bersuci, menyucikan bajumu, mengucapkan syahadat yang benar, kemudian shalat."

Akhirnya, Usaid pun menyatakan keislamannya. Setelah itu, sahabatnya, Sa'adpun ikut masuk Islam. Dengan Islamnya Usaid dan Sa'ad, sore harinya, seluruh kabilah Abdul Asyhal berbondong-bondong memeluk agama Islam. Ada pula yang mengatakan, hari itu, sebagian besar suku Aus dan Khazraj telah memeluk Islam.

Berkat kecerdasan, kesabaran, dan kebesaran jiwa, Mush'ab berhasil mengajak sebagian besar masyarakat Madinah memeluk agama Islam. Berawal dari sini, ia di kenal dengan panggilan Muqri'ul Madinah (Narasumber Madinah). Sejak itu, setiap orang yang mengajarkan al Qur'an disebut "Mushaf".

Pada musim haji tahun berikutnya, Mushaf berhasil mengajak lebih dari 70 kaum muslimin ke Makkah yang setelahnya terjadi Perjanjian Aqabah kedua.

C. Di Bawah Bendera Kemenangan

Sejak pulang dari Madinah, Mush'ab tidak pernah absen berperang menyertai Rasulullah Saw. Ketika terjadi Perang Uhud, ia mendapat amanah membawa panji kaum muslimin. Awalnya, kaum muslimin terlihat unggul, namun karena kelalaian beberapa prajurit, akhirnya kaum muslimin terdesak. Bahkan Rasulullah Saw dalam kondisi sangat berbahaya.


Mush'ab yang waktu itu memegang bendera kaum muslimin di barisan depan berpikir cepat. Ia menarik perhatian musuh dengan berlari ke tempat yang berlawanan arah dengan Rasulullah Saw. Upayanya berhasil, hampir semua pasukan kafir Quraisy menuju ke arahnya. Sambil mengacungkan bendera tinggi-tinggi, bertakbir dan menyerang musuh, ia berteriak, "Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang rasul yang sebelumnya telah ada sebelum nya."

Sesaat kemudian, pihak musuh berhasil menebas tangan Mush'ab hingga putus. la segera memindahkan bendera ke tangan kiri. Namun, tangan kirinya juga ditebas. la segera membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengannya meraih bendera ke dada sambil terus bertakbir. Namun, kali ini lawan menyerang dengan menusukkan tombak ke dada Mush'ab gugur sebagai seorang syuhada yang gagah berani.

Mush'ab wafat hanya meninggalkan namirah (sejenis pakaian wol yang biasa dikenakan kaum rendahan). Setelah perang usai Rasulullah Saw dan para sahabat meninjau medan pertempuran untuk menyampaikan perpisahan kepada para syuhada. Ketika melihat jasad Mushab, mereka merasa sangat kehilangan dan bercucuran air mata.

Setelah melihat jasad para syuhada. Rasulullah Saw berkata, "Sungguh, aku akan menjadi saksi nanti di hari kiamat, bahwa kalian semua adalah syuhada di sisi Allah Swt."

Sumber

  • Muhammad Fauzil, Agar Cinta Bersemi Indah (Jakarta: Gema Insani Perss, 2002), hlm. 102.
  • Ahmad Rofi' Usmani, Muhammad Sang Kekasih (Bandung: Mizania, 2009), hlm. 178.
  • Muhammad Mahir al-Buhairi, Saat-Saat Mengharukan dalam Kehidupan Nabi dan Sahabat (Jakarta: Gema Insani Perss, 2004), hlm. 78.
  • Af. Rozi, Hikayat Syahid Paling Wangi (Jogjakarta: Sabil, 2014), hlm. 27-33.
  • Ibid., hlm. 103.


Disertai penyuntingan bahasa oleh www.seputarkita.id

Lebih baru Lebih lama